KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Website ini merupakam media informasi seputar kegiatan Program KOTAKU Kluster Surabaya,Bangkalan, Pamekasan, Sumenep dan media informasi yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan, penataan kota [ TIM REDAKSI MENERIMA TULISAN OPINI DAN BERITA SEPUTAR KOTAKU ]

Selamat datang di Website Kotaku Surabaya

Total tayangan

Rabu, 09 Oktober 2019

SISIR YANG PATAH

Koorkot Surabaya
Bagi penikmat buku, John Calvin Maxwell tak asing  lagi. Meskipun tak pernah melahap aneka ragam karyanya, paling tidak bagi yang pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan nama John C Maxwell tak luput dari perbincangan dan menjadi salah satu rujukan.
Salah satu poin penting yang harus kita pelajari dari konsep kepemimpinan John C Maxwell yang sudah mashur dengan lima tangga atau lima level kepemimpinan itu. Tentu tak akan diurai di sini terkait dengan level kepemimpinan itu. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa pemimpin itu selalu mencari cara agar relasi yang dibangun tak melulu pendekatan struktural antara atasan dan bawahan. Pendekatan model begini akan selalu mengernyitkan dahi, jauh dari riuh dan gelak tawa. Tak percaya, bandingkan saja!
Team Leader Abdus salam membuka acara
Begitu juga dengan keberadaan OSP 3, tentu masih ingat suasana hawa  dingin menusuk relung hati di Pacet beberapa minggu lalu, tepatnya pada tanggal (18-19/9). Dan bahkan akan selalu ingat saat kata sisir dan japri diteriakkan. Bagaimana tidak, kata japri itu berkumandang dari salah satu personel paling penting di jajaran OSP 3 karena berkaitan dengan gaji. Suswayanti, saya tidak bisa menggambarkan dan melukiskan auranya seperti apa, pasti teman-teman sudah mafhum dengan wajah yang satu ini. di saat malam mulai beranjak, rasa dingin semakin menusuk, De Sus teman-teman memanggilnya, saat menyampaikan mengenai revisi SPK dan laporan bulanan, hening dan  harap-harap cemas,  saat semua mata tertuju padanya, tiba-tiba De Sus menyampaikan bahwa Asman Pacitan saudara Bingah Marcopolo meminta kepada saya dan seraya mengiba jika ada info terkait lapbul atau SPK jangan diumumkan di group Whastaap (WAG) OSP 3 cukup dengan jaringan pribadi (japri) Bingah memintanya begitu kata De Sus, sepontan dengan riuh, histeris teman-teman memanggil Bingah dengan sebutan Japri.  Tentu tak hanya tertuju kepada Bingah, kata Japri di lingkungan OSP 3 menjadi perberbendaharaan baru.
seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, kata japri dan sisir mengemuka. Bila teriak japri maka kata sisir pasti mengikuti. Ihwal kata sisir identik dengan Asman Bojonegoro Majidul, orangnya rapi dan bertipelogi melankolis jika merujuk pada buku Personality Plus buku keperibadian karya Florence Littauer. Hanya masalahnya sekuat dan sebagus apapun sisir yang digunakan selalu gagal dan mengalami disfungsi untuk merapikan rambutnya. Wujuduhu kaadamihi  begitulah pepatah arab mengatakan, adanya sama dengan tiadanya.
Majidul mengiba untuk tidak dicoret lipstik sama Ika
Terlepas dari dua kata sisir dan japri, substansinya adalah, tak hanya pendekatan struktural yang menjadi media efektif dalam mencapai progress, mengejar ketertinggalan capaian. Bahasa guyon dan canda seringkali lebih efektif daripada surat edaran formalistik. Meminjam bahasanya Team Leader, jika tidak guyon, bisa sakit perut. Tentu saja kita harus dibedakan dan membedakan  posisi dan kedudukan masing-masing sesuai  struktur yang ada. Orang yang bersungguh-sungguh di mana kita berdiri itulah sikap realistis, kata Ical dan Arai  dalam novel tetralogi sang pemimpi.
Jika kita cermati, kesan yang tampak dan saya rasakan OSP 3 di bawah kendali Abdussalam, sebagai Team Leader, jauh dari nuasa formalitas dan kesan serius. Bahasa –bahasa kinayah atau kiasan menjadi cara dalam membangun komunikasi dengan mitra kerjanya baik kepada koorkot dan Asman yang sering berhadapan langsung. Mungkin ini menjadi kelebihan atau sebaliknya. Tetapi yang pasti, Pacet bukan yang pertama dan terakhir
Kita bisa menyaksikan betapa garis struktural lebur saat dihari kedua. Beberapa game yang dipandu oleh TA FIC Zainul dibantu oleh Sub TA Sosialisasi Imam Tobroni, Lek Tob teman-teman memanggilnya. Tidak ada Team Leader, Tenaga Ahli, Sub Tenaga Ahli, Koorkot, Asman dan sekretaris semua menjadi satu dalam panggung permainan, yang melaggar tata cara permainan maka akan dikasih reward lipstick. Tak perduli siapa itu. Puncaknya adalah saat bermain tepung, semua kebagian tepung. Entah yang menang dan yang kalah dalam permainan, pokoknya dikasih tepung. Itulah manusia, yang dilukiskan sebagai mahluk bermain (homo ludens) oleh Johan Huzinga dalam bukunya a Study of Play Element in Culture. Bermainlah selama bermain tidak dilarang, dan seringlah diajak bermain jika kekompakan, soliditas dan capaian progres bisa melaju kencang.
Emak-emak asyik main tepung
Struktur dan kultur harus berjalan secara berdampingan, karena itu faktanya, tetapi jika hanya mengedepankan struktur dan mengabaikan pendekatan kultur seperti nyanyi dan karaoke bersama, bakar jagung bersama.  maka seperti sisir yang patah, bukan patah lantaran  menyisir rambut karena rambutnya yang lebat, tetapi karena emosional  karena yang disisir ternyata tidak ada rambutnya.




Kamis, 03 Oktober 2019

KOLABORASI TANPA TEPI


Guna mendukung 100 persen akses universal air minum, 0 hektar permukiman kumuh dan 100 persen akses sanitasi layak atau lebih di kenal dengan "Gerakan 100-0-100", Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Rukun Abadi Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya memfasilitasi Program pembangunan jamban sehat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya.
Berlangsung pada, Rabu (02/10) kemarin dilaksanakan sosialisasi kepada 13 kepala keluarga calon penerima Program pembangunan jamban sehat tahun anggaran 2019 di Aula Pertemuan Kelurahan Simomulyo. Kegiatan ini merupakan kali ketiga dari tahap sebelumnya yakni tahap pertama telah dibangun sebanyak 20 unit dan tahap kedua sebanyak 32 unit jamban sehat untuk warga yang belum memiliki akses sanitasi layak.
Koordinator BKM Rukun Abadi Kelurahan Simomulyo, Magdalena, mengatakan pembangunan jamban ini merupakan salah satu Program dari DLH Kota Surabaya. Dengan adanya program ini masyarakat akan dibantu pendanaanya melalui kelompok masyarakat seperti BKM sehingga pelaksanaan pembangunan jamban tersebut sesuai standar teknis.
"Pembangunan jamban ini membutuhkan perencanaan seperti gambar teknis, Rincian Anggaran Biaya (RAB) dan beberapa syarat calon penerima lainnya. Jadi, kami (BKM, red.) hanya menjalankan sesuai ketentuan yang berlaku dari Dinas," katanya.
Ia menyampaikan, hal yang lebih penting sebetulnya ialah tentang pembangunan manusia. Peran BKM selain pelaksana dari kegiatan ini berkewajiban untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat terkait pola hidup sehat dengan membuang air besar pada tempatnya. Harapannya, program tersebut dapat meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat.
"Saya menyayangkan apabila nanti sesudah dibuatkan jamban, masih ada yang BAB sembarangan," lanjutnya. 
 Sementara itu, Eny, pihak DLH memaparkan kesamaan visi dengan BKM Rukun Abadi Kelurahan Simomulyo. Menurutnya, pembangunan jamban itu adalah media pemberdayaan masyarakat saja. Sebab kegiatan ini merupakan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
"Pendistribusian jamban kepada warga harus melalui kelompok masyarakat, karena program ini berbasis masyarakat. Maka, BKM sebagai lembaga pemberdaya bisa melaksanakan program ini dengan syarat dan ketentuan yang berlaku," tukasnya.
Ia mengungkapkan, pagu anggaran satu unit pembangunan jamban senilai 3,3 juta. Meski demikian, DLH berharap BKM mampu mengelola anggaran tersebut. "Anggarannya minim, 3,3 juta untuk bangun satu jamban, setelah dipotong pajak dan lain-lain jatuhnya sekitar Rp. 2.910.000/unit," papar Eny.
Ilyasin Fasilitator Sosial Kota Surabaya



Sabtu, 28 September 2019

Kementerian Keuangan melakukan Audiensi dengan BKM Kedinding

Short Course Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DPJB) Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) melaksanakan audiensi dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kedinding Mukti Wibowo, Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya pada, Jum'at, 27 September 2019 bertempat di Balai Kelurahan Tanah Kali Kedinding.
Kegiatan Short Course yang mengusung tema "Belanja Negara Sebagai Stimulus Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan" ini diikuti oleh 60 orang dari rombongan Pegawai aktif Direktorat Jenderal Perbendaharaan dari seluruh Indonesia. Dengan tujuan untuk menggali informasi seputar pengelolaan keuangan yang efektif guna menstimulus aktivitas ekonomi, baik sumber pendanaan dari APBN maupun APBD yang di gelontorkan melalui BKM dan Kelurahan. 

Menurut koordinator BKM Kedinding Mukti Wibowo, Heri Purwanto, saat ditanya soal pengelolaan ekonomi menerangkan bahwa kegiatan tersebut telah diatur melalui Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dirancang oleh program. Kendati demikian, BKM dan UPK tetap melakukan inovasi-inovasi dengan menyesuaikan kondisi sosial masyarakat.
"BKM memperhatikan potensi ekonomi yang bisa di kembangkan, seperti pasar disini, misalnya. Itu merupakan potensi bagi kami untuk guliran ekonomi berkelanjutan di BKM", terangnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Cici Lisa, Lurah Tanah Kali Kedinding, bahwa pihaknya bersama BKM akan melakukan inovasi dengan memanfaatkan teknologi mutakhir dalam mengembangkan aktivitas perekonomian untuk mempermudah masyarakat. Dengan begitu, BKM dan Kelurahan akan menjadi sasaran "Best Practice" bagi para peneliti dan pemburu aktivitas ekonomi berkelanjutan.

Ilyasin, Fasilitator Sosial Surabaya


Rabu, 07 Agustus 2019

Selebrasi 17 Agustus, Merdeka Dari Sampah Plastik


Bila menyoal sampah di negeri seribu pulau ini memang tak kunjung usai. Isu sampah masih saja "sexy" untuk diperbincangkan, terlebih soal sampah plastik. Setidaknya, berdasar hasil riset Dr. Jenna Jambeck di Jurnal Science, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari 192 negara sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan. Akademisi dan peneliti asal Universitas Gorgia, Amerika Serikat itu menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam 5 besar penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dengan urutan kedua setelah Tiongkok, lalu disusul Filipina, Vietnam dan Srilanka. Dari data yang dihimpun, melalui laman situs (www.sciencemag.org) pada 12 Februari 2015 silam, ia memperkirakan jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan dari seluruh dunia sebanyak 4,8 - 12,7 juta ton dan Indonesia berhasil menyumbang sampah plastik 3,2 juta ton. Ikhwal ini bukan prestasi yang membanggakan tentunya, data tersebut membuktikan bahwa belum rampungnya manajemen pengelolaan sampah yang baik, membuat lautan terdampak sampah plastik.
Menurut Dr. Jenna, plastik tidak terdegradasi secara alamiah. Namun, membutuhkan waktu yang cukup lama, plastik akan berubah menjadi ukuran yang lebih kecil lagi dan akan merusak lingkungan, ia menyebutnya, mikroplastik. Pada bulan April 2019 lalu, penulis dan kawan-kawan pegiat lingkungan sempat berdiskusi tema serupa dengan Ketua Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some. Senada dengan hasil riset Dr. Jenna, Wawan, sapaan akrabnya, melontarkan sebuah tesis bahwa sampah berbahan plastik dapat terurai hingga satu abad lamanya. Dan, sampah berbahan popok habis pakai akan terurai sekitar kurang lebih lima abad. Sampah plastik yang berakhir di lautan bisa saja disebabkan tanpa adanya pemilahan sampah dan infrastruktur yang tidak memadai. Di Kota Surabaya, menurut Wawan, dalam setiap harinya sampah yang masuk ke TPA mencapai 300 truk setara dengan 1.200 ton serta sungai masih menjadi pilihan masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah terpanjang.
Kondisi memperihatinkan ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Sebab, sampah plastik dapat merusak ekosistem laut, fungsi ekologis alam dan mengancam keberlangsungan hidup manusia umumnya. Setiap biota yang dikonsumsi manusia tidak menutup kemungkinan terdapat cacahan plastik (mikroplastik) di dalamnya. Fakta menunjukkan bahwa ikan tidak bisa membedakan antara mikroplastik dan plankton. Kawasan konservasi seperti hutan mangrove, misalnya, tidak dapat memberikan fungsi ekologisnya secara sempurna. Sampah plastik yang terdampar di hutan mangrove terbukti membunuh ribuan anak mangrove atau yang tumbuh secara alami. Lilitan plastik yang terurai ratusan tahun akan terperangkap di akar tunjang vegetasi mangrove sehingga menutupi akar yang memiliki fungsi mengambil oksigen itu.
Meski menuai pro - kontra, pemerintah melalui terbitnya Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun No : S.1230/PSLB3-PS/2016 tertanggal 17 Februari 2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar (SE-KPB), yang diberlakukan sejak tanggal 21 Februari 2016 lalu, setidaknya mengurangi jumlah angka penggunaan kantong plastik di Kota Surabaya yakni sekitar 60 persen. Hal ini memang membutuhkan ketegasan dari pemangku kebijakan, agar peraturan yang telah di terbitkan tidak kembang - kempis dan jelas peruntukannya. Terlepas dari hal itu, menurut hemat penulis, persoalan sampah ini menitik beratkan pada sejauh mana keterlibatan banyak pihak turut andil dalam menyikapi persampahan, kampanye cinta lingkungan, edukasi pengelolaan sampah dan pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Di sisi lain, kita harus mendudukkan persoalan ini secara arif. Melibatkan diri sendiri merupakan cara bijak dalam menyikapi kasus demikian. Banyak kisah sukses tentang daur ulang sampah yang bisa dijadikan ibrah baik yang dilakukan secara personal maupun komunal. Perubahan besar tentu harus melalui hal-hal kecil terlebih dahulu dan bisa dimulai dari diri kita masing-masing. 
Merawat Lingkungan Dalam Perspektif Islam
Diskursus pelestarian lingkungan hidup dan tanggung jawab manusia terhadap alam telah dibicarakan sejak dulu. Relasi antara manusia dengan alam (Hablun min al-'alam) banyak disinggung dalam al-Qur'an. Relasi tersebut tidak melulu hanya hubungan eksploitatif tetapi juga apresiatif. Alam (lingkungan) tidak hanya "dimanfaatkan" tetapi juga harus dihargai. Krisis lingkungan hidup global yang terjadi dewasa ini sebetulnya bersumber dari kesalahan fundamental filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Alhasil, kesalahan pandangan ini melahirkan perilaku yang keliru dalam memandang alam dan keliru pula dalam menempatkan dirinya di dalam ekosistem alam. Oleh sebab itu, pembenahan krisis lingkungan ini harus di mulai dari perombakan pandangan hidup tersebut.
Kesalahan cara pandang itu berawal dari paham antroposentrisme yang memandang manusia sebagai sentral alam semesta dan hanya manusia yang memiliki nilai. Paham ini menegaskan bahwa manusia sebagai subjek dari segala sesuatu, sementara alam dan seluruh isinya hanya sebatas alat (instrument) bagi pemuasan kepentingan atau pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Menurut paham ini, manusia dianggap berada di luar dan terpisah dari alam. Bahkan, manusia dianggap sebagai penguasa dan boleh melakukan apapun terhadap alam. Cara pandang seperti ini berimbas pada sikap dan perilaku eksploitatif tanpa peduli sama sekali terhadap alam dan isinya karena dianggap tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri.
Bila di hadapkan pada konteks konservasi alam, sedikitnya paham ini memiliki tiga kelemahan. Pertama, mengabaikan lingkungan yang dinilai tidak memberi keuntungan pada manusia, kedua, eksploitasi yang dilakukan berubah-ubah sesuai selera dan kepentingan manusia, dan ketiga, berorientasi pada nilai-nilai ekonomis jangka pendek.
Islam sebagai agama denga misi menebarkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin) memiliki pandangan khas tersendiri terhadap lingkungan hidup dan semesta alam pada umumnya yang dapat dikonsepsikan sebagai ekoshari'ah. Mudhafir Abdullah, dalam karyanya, Al-qur'an dan Konservasi Lingkungan, mengulas dengan gamblang. Menurutnya, ekoshari'ah dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai ajaran Islam yang berpihak terhadap lingkungan hidup. Istilah ini menegaskan bahwa ajaran agama (Islam) telah meletakkan pondasi nilai-nilai dasar dalam kerangka membangun kehidupan yang ramah lingkungan. Nilai-nilai dasar tersebut dapat digali dari sumber utama ajaran Islam, al-Qur'an dan Hadits.
Dengan ekoshari'ah, paling tidak akan lahir dua paradigma. Pertama, bahwa konsep-konsep konservasi lingkungan adalah bagian dari ajaran Islam, karena konsep itu hasil deduksi dan induksi dari sumber ajaran Islam. Kedua, kerja konservasi yang dilakukan oleh manusia bagian dari keberagamaan, atau sebagai bagian dari implementasi iman seseorang. Dengan demikian, ekoshari'ah diharapkan menjadi pandangan dunia yang mewarnai paradigma masyarakat Muslim.
Dengan konsep ini pula, akan menjadi pintu masuk bagi usaha-usaha konservasi lingkungan berbasis nilai ajaran Islam yang bukan hanya untuk memperbaiki kualitas lingkungan di negara-negara Muslim, tetapi dapat juga menopang gerakan global dalam masalah pembangunan berkesinambungan. Dalam artian, penggalian kembali pesan-pesan konservasi lingkungan dari perspektif syariah dapat menjadi tonggak sejarah bagi gerakan environmentalisme global.
Ilyasin Yusuf adalah Fasilitator Sosial  Kota Surabaya


Jumat, 02 Agustus 2019

Berpikir Strategis Bertindak Taktis, Zonasi Bagian dari Solusi

Pendampingan model zonasi di Kota Surabaya kian menemukan titik terang. Pertemuan Koordinator Forum Komunikasi Antar Badan Keswadayaan Masyarakat (FKA BKM) zona Surabaya timur itu dihelat pada, Jum'at (02/08/2019) malam. Dihadiri oleh tiga orang Koordinator FKA BKM yang ada di Surabaya timur, diantaranya ialah, Suhadi Koordinator FKA BKM Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Djoko Soeparto Koordinator FKA BKM Kecamatan Gubeng dan Kardi Koordinator FKA BKM Kecamatan Sukolilo. Serta tiga orang lainnya mewakili BKM masing-masing Kecamatan di Surabaya timur

Sebelumnya, pertemuan serupa juga dilaksanakan pada, Selasa (23/7) malam, di Cafe Holly, Jl. Sukomanunggal No. 75 yakni Rapat Koordinasi FKA BKM zona Surabaya barat. Kini, tim fasilitator merambah disisi timur Surabaya. Kegiatan ini mulanya adalah rapat teknis dan pembentukan panitia pertemuan zona, namun tiga Koordinator FKA BKM lainnya terkendala hadir sehingga forum menyepakati untuk ditunda pada minggu kedua bulan Agustus ini.
Diketahui, FKA BKM zona Surabaya timur terdapat 6 Kecamatan meliputi Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Gubeng, Mulyorejo, Gunung Anyar, Rungkut dan Sukolilo. Menurut Suhadi, tidak elok membentuk kepanitiaan tanpa dihadiri perwakilan tiga FKA BKM lainnya tersebut. "Hemat saya, pembentukan panitianya ditunda minggu kedua bulan Agustus saja. Bisa quorum apabila sudah 50 plus 1," usul Suhadi. 
Kendati demikian, pertemuan yang digelar di Cafe Sendok Garpu milik Djoko Soeparto seorang Koordinator FKA BKM Kecamatan Gubeng ini berjalan santai dan akrab. Forum tersebut menuai hasil dengan mengestimasi pertemuan zona Surabaya timur akan dilangsungkan pada minggu kedua bulan September mendatang.


Ilyasin Yusuf Fasilitator Sosial Kota Surabaya

#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA