KOTAKU 2019 - KOTAKU KOORKOT SURABAYA

KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik, tapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik[ Ilham JP]


Website ini merupakan media informasi seputar Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kluster Surabaya: Kota Surabaya Kab.Bangkalan Kab.Pamekasan Kab.Sumenep
Selamat Datang di Website KOTAKU Koorkot Surabaya

Total tayangan

Jumat, 20 Desember 2019

Koorkot Surabaya Melakukan MoU dengan STIESIA Surabaya

Sungguh menakjubkan, bagi kami TIM Koorkot Kota Surabaya bisa melakukan kerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya (STIESIA). Jumlah dampingan Kota Surabaya yang berjumlah 154 Kelurahan yang tersebar di 33 kecamatan hanya didampingi 5 Fasilitator. Tentu kita memahami geografis Kota Surabaya, tak hanya itu, karakter masyarakat metropolitan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Fasilitator untuk melakukan pendampingan dengan ultra intens. Meskipun tak bisa diingkari dan dipungkiri dalam perjalanannya optimalisasi dalam fasilitasi BKM bersama perangkatnya tergerus juga dengan minimnya personel.
Dr Nur laili Dr.Nur Fadjrih dan Abdus Salam


Dengan adanya penandatanganan nota kesepahaman  atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Koorkot Surabaya (MoU) dengan STIESIA Surabaya melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) pada hari kamis (19/12) sebagai bentuk riil dari berkomitmen untuk mendampingi BKM yang dinilai stagnan. Pendampingan BKM oleh para Dosen ini difokuskan kepada pembukuan Sekretaris dan UPK. Tentu tak mengabaikan bagaimana membangkitkan eksistensi BKM yang sudah mati suri.
Dalam paparannya Koorkot Program KOTAKU Kota Surabaya Abdus Salam, menyampaikan di depan para Dosen terkait  BKM dan tugas fungsi BKM. Cita-cita BKM sebagai agen perubahan sosial, penyemai nilai-nilai luhur dan lumbung keperdulian masyarakat seolah behenti  bersamaaan dengan berhentinya Bantuan Langsung Masyaakat (BLM)  atau Bantuan Dana Ivestasi. 
Penandatanganan MoU antara pihak STIESIA dengan Kotaku Surabaya
Salam mengajak dan meminta kepada para dosen STIESIA Surabaya itu tak hanya berhenti dalam bentuk pengabdian dalam melakukan fasilitasi BKM dimana dalam hal ini UPK dan Sekretaris, lebih dari itu salam meminta agar para dosen melakukan riset terkait kelembagaan BKM  yang mati suri dan tak berdaya dalam keberlanjutan kelembagaan itu. Hasil penelitiannya dipublikasikan dan sebagai masukan bagi kami ujar Salam.
Semenetara Ketua STIESIA Surabaya  Dr. NUR FADJRIH ASYIK, SE., M.Si., Ak, CA menyampaikan bahwa dengan adanya kerjasama dengan TIM Koorkot Kotaku Surabaya dalam pendampingan kepada BKM di Surabaya, kami bisa berkontribusi untuk memulihkan BKM yang mati suri dan membantu pembukuan sekretaris dan UPK di mana saat ini sangat minim dalam fasilitasi oleh Fasilitator karena jumlahnya yang sangat terbatas. Sebagaimana data yang diberikan oleh Tim Koorkot bahwa ada 40 BKM yang perlu dimaksimalkan pendampingannya. 
Pemberian Cenderamata oleh Ketua STESIA Kepada Koorkot
Hal yang sama juga disampaikan oleh Dr. Nurlaiy sebagai Ketua L2PM STIESIA Surabaya bahwa kerjasama itu menjadi salah satu bagian dari Tridharma Perguruan tinggi. Pendampingan kepada BKM utamanya pendampingan kepada pembukuan UPK dan sekretaris BKM.
 Setelah pemaparan dan Tanya jawab terkait dengan program KOTAKU dan BKM. Maka prosesi penandatangan MoU dilakukan oleh Koorkot Kota Surabaya Abdus Salam dan ketua STIESIA Surabaya Dr. NUR FADJRIH ASYIK, pelaksanaan pendampingan oleh Dosen STIESIA akan dilakukan pada bulan Januari tahun 2020, di mana masing-masing BKM dan UPK akan didampingi oleh dua orang dosen[]

Prastya Penulis adalah Asisten kelembagaan dan Kolaborasi Kota Surabaya 


Sabtu, 07 Desember 2019

OPTIMIS PELAKSANAAN PEMBANGUNAN SKALA KAWASAN SURABAYA

Proyek skala kawasan di Kelurahan Wonokusumo, Kecamatan Semampir kian menemukan titik terang. Pasalnya, program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kota Surabaya akan menyulap kawasan kumuh tersebut menjadi destinasi wisata baru di Kota Surabaya.Sejumlah instansi yang tergabung dalam Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) telah berjumpa diacara Workshop Penataan Skala Kawasan program Kotaku kemarin (5/12). Diantaranya yang hadir ialah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PMK, Dinas Kesehatan (Dinkes), Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bapekko), Technical Management Consultant (TMC) serta Dinas Sosial (Dinsos). Workshop yang digelar di BG Junction Mall itu juga diikuti perwakilan kelurahan, Perguruan Tinggi UNIPA dan sejumlah perusahaan serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Habitat, UAID IUWASH PLUS,

Acara ini selain membahas sasaran, ada ulasan terkait tahapan-tahapan pelaksanaan program. Dalam pembahasan tersebut, ada empat titik kawasan di Kelurahan Wonokusumo yang akan ditata tahun depan (red 2020) Yakni, kawasan Mrutu Kalianyar, Kali Basin, Wonosari Wetan Baru dan Bulaksari-Bulakjaya. "Fokus penataannya di Mrutu Kalianyar, di sana akan ditata total. Kami menyebutnya Mrutu Riverside," kata Koordinator Program Kotaku Kota Surabaya Abdus Salam As'ad.
Ema Agustina Bappeko menyampaikan paparan
Menurutnya, pemerintah selain membangun dermaga dan plengsengan di kawasan Mrutu Kalianyar. Nanti ada penataan jalan inspeksi di pinggir kali. Upaya penataan tersebut akan diawali dengan ditertibkannya kawasan permukiman sekitar sungai Mrutu. Disana, ada 163 rumah yang dikepras karena menganggu jalannya pembangunan. Meski demikian, pemilik akan diberikan ganti rugi sesuai dengan tingkat kerugian. Beberapa kali tim Kotaku Surabaya turun ke lokasi guna mendata rumah Warga Terdampak Proyek (WTP).
Salam menuturkan, proyek penataan Wonokusumo akan dilelang 15 Desember  mendatang. Pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran senilai Rp 39 miliar untuk penataan kawasan kumuh. Selain menata infrastruktur, anggaran tersebut telah mencakup biaya pembinaan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Dana yang digelontorkan dari pusat tentu akan mendongkrak kebutuhan anggaran. Sebab, kebutuhan biaya untuk penanganan kawasan kumuh tak sedikit. Bapekko memerinci kebutuhan tersebut mencapai Rp 62 miliar.
Ibu Rekyan Satker Propinsi menjelaskan tahapan skala kawasan
Kasubbid Penataan Ruang, Permukiman, dan Lingkungan Hidup Bapekko Surabaya Ema Agustina menuturkan, angka tersebut terbagi-bagi menjadi banyak proyek. Selain pembangunan pos PMK ada pula pembuatan jamban. Proyek jambanisasi yang anggarannya mencapai Rp 260 juta, pun direncanakan tahun depan. Sebab itu, kata Ema, sinergi antar instansi menjadi sangat penting guna menopang penataan kawasan kumuh. Dia menambahkan, peningkatan kawasan permukiman merupakan program besar. "Saat ini kami fokus mengubah wajah bantaran sungai," katanya.

 Ilyasin Yusuf*) Penulis adalah Fasilitator Sosial Kota Surabaya


Senin, 02 Desember 2019

Tuhan, Peluklah Mimpi Kami


TMC -Koorkot dan Bappeko

Skala kawasan bagi Kota Surabaya menjadi denyut dan urat nadi. Jika gagal, selesai semuanya. Koorkot cluster 4 pada tahun ini hanya Kabupaten Pamekasan yang mendapatkan dana BPM.  Serius hanya satu Desa dari 208 Desa dan  Kelurahan . Orang tidak akan ribet dan bertanya tentang proses, yang tampak adalah hasil, meskipun ada adagium proses tak mengingkari hasil. Mungkin pernyataan itu benar tapi juga keliru. Karena manafsirkan fakta seringkali berbeda dengan realitas yang ada. Mumet kan..pasti.
Neo hotel menjadi salah satu saksi dari sekian proses panjang yang telah digeluti. Kegiatan yang diadakan di Neo hotel Sidoarjo pada tanggal 27-28 Nopember 2019 seolah menjadi oase dalam gurun sahara. Penantian panjang mulai dari 2016 perencanaan skala kawasan di Kelurahan Wonokusumo yang diperkirakan akan menelan biaya kurang lebih 37 M akan segera terwujud 
TL TMC5 Ibu Rekyan satker PKP Ibu Ema Bappeko dan TL OSP3
Saat ibu Rekiyan satker PKP menyampaikan bahwa Kota Surabaya ditargetkan lelang minggu kedua bulan Desember 2019 dan hanya menyisakan satu surat minat Wali Kota  dan surat kesediaan mengelola dan menerima asset Barang Milik Negara (BMN) yang ditargetkan pada minggu pertama bulan Desember tuntas. Semoga Tuhan memudahkan ikhtiar kami
Tentu masih berdebar –debar jika pelaksanaan lelang belum dilakukan. Semoga Pokja sebagai lokomotif dan nahkoda tak pernah jenuh dan bosan melakukan aneka ragam pertemuan yang dilakukan oleh pokja untuk mengejar progress kegiatan skala kawasan. Organisasi perangkat daerah (OPD) yang senantiasi rutin hadir dalam pertemuan untuk mengetahui perkembangan skala kawasan. Berbagai LSM dan Perguruan tinggi bahkan media dalam jaringan (daring) dan cetak yang selalu memberitakan progres kegiatan skala kawasan yang akan merubah wajah Kelurahan Wonokusumo.
Semoga Tuhan memeluk mimpi masyarakat Kelurahan Wonokusumo bisa terwujud pada tahun 2020 yang sudah diidamkan sejak tahun 2016 lalu. TMC Mas Ari M   sebagai patner tanpa batas dan lintas batas tak pernah lelah bersama Tim koorkot, begitu juga dengan OSP3 yang selalu member arahan dan pendampingan di lapang[]


Jumat, 22 November 2019

Kegiatan Eksibisi KOTAKU Surabaya dalam Festival Kampung Lawas Maspati


Sebanyak 70 kampung yang menjadi peserta Festival dan Konferensi Kampung Nusantara di Kampung Lawas Maspati, Bubutan, Kota Surabaya. Kegiatan ini dihelat sejak kemarin (20/11) hingga hari ini. Tidak hanya diskusi, disepanjang jalan Maspati V ada pula pameran ane ka produk UKM Kecamatan Bubutan . Hasil kreativitas masyarakat setempat itu memantik perhatian peserta dari berbagai daerah. Beberapa produk yang mempesona pengunjung di antaranya, minuman tradisonal, baju daurulang, aksesoris, dan miniature dari limbah.
Andik, salah seorang peserta mengatakan, ada banyak hal yang menarik untuk dipelajari dari pengembangan Kampung Lawas Maspatiini. Selain konsep penataan lingkungan, soliditas warga juga patut dicontoh. “Apa yang telah dilakukan warga Maspati ini jadi contoh untuk program-program kami,” katanya.
Saat di wawancara awak media, Sabar Swastono, PenanggungJawab Festival dan Konferensi Kampung Nusantara menjelaskan, setidaknya ada tiga tema yang menjadi bahasan pokok dalam diskusi. “Yakni tentang sosial, budaya dan ekonomi,” jelasnya. Iamengatakan, kegiatan tersebut rencananya akan digelar setiap tahun. Tujuannya ialah, mendorong perekonomian masyarakat dan memacu spirit warga dalam menata lingkungannya. 
Bapak Hadi dari Kementerian PUPR mengunjungi stan KOTAKU
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Badan Pengembangan Infratruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Hadi Sucahyono. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kegiatan tersebut. Tampak komitmen warga untuk menjaga kawasan heritage. “Saya berharap kedepan Maspati ini menjadi semacam laboratorium perguruan tinggi. Ini hal menarik,” tuturnya. Di samping itu, Hadi berpesan, ada banyak hal tak boleh diabaikan dalam program penataan lingkungan. Salah satunya, system pengolahan limbah berbasis reduce, reuse dan recycle (3R).
Poto bersama pegiat Kampung se Indonesia
Tak hanya itu, festival  Kampung Nusantara bersenyawa dengan kegiatan eksibisi Program KOTAKU Surabaya . Kegiatan yang didesain seperti pembuatan spanduk, banner, gelas mog, tas kain dan stiker dengan tulisan KOTAKU. Beberapa pengunjung pameran yang datang dan bertanya tentang KOTAKU, maka akan mendapatkan bonus tas dan mog. Salah satu diatara pengunjung adalah Kepala Badan Pengembangan Infratruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR), Hadi Sucahyono yang sejak awal sambutannya sudah banyak menyinggung terkait program KOTAKU.
Kenapa program eksibisi program KOTAKU menjadi bagian dari kegiatan dalam festival kampung lawas maspati.  karena substansinya sama, kegiatan kampong lawas senafas dengan cita-cita program KOTAKU dalam penataan kota yang bersih asri dan nyaman.
TIM Kotaku Surabaya bersama Prof Johan Silas

Koordinator Kota Program Kotaku Kota Surabaya, Abdus Salam As'ad, mengatakan pihaknya sejak awal sering melakukan komunikasi intens dengan penanggung jawab kegiatan. Menurut Salam, penanganan kawasan kumuh menjadi prioritas utama. Sebab dampak yang ditimbulkan akan menjalar ke berbagai sektor. Khususnya terkait kesehatan masyarakat. Dalam kegiatan itu pula, kata Salam, tim Kotaku melakukan sosialisasi pentingnya pola hidup bersih dan sehat.
Dia menambahkan, di samping menyiapkan infrastruktur lingkungan, menata sumber daya manusia (SDM) menjadi tujuan utama pembangunan. Hal ini, menurutnya, bagian dari cita-cita tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). "Apabila menata infrastruktur tanpa di barengi dengan menata manusianya, maka cita-cita itu tak akan bisa terwujud," katanya.


Penulis: Ilyasin Yusuf, Fasilitator Sosial Surabaya



#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA