KOTAKU Bekerja Tanpa Bayaran - KOTAKU KOORKOT SURABAYA

KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik, tapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik[ Ilham JP]


Website ini merupakan media informasi seputar Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kluster Surabaya: Kota Surabaya Kab.Bangkalan Kab.Pamekasan Kab.Sumenep
Selamat Datang di Website KOTAKU Koorkot Surabaya

Total tayangan

Jumat, 26 Juli 2019

Bekerja Tanpa Bayaran

Ngga hanya capek fisik saja, pikiranpun juga terforsir setiap saat. Rasanya, bak dibunuh setiap detik," keluh Noor Hendriyani (35), salah seorang fasilitator teknik Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kota Surabaya di sela-sela koordinasi tim fasilitator.

Ibu dari seorang putera yang berusia 11 tahun itu mengeluhkan belum cairnya gaji dua bulan hingga bulan Juli 2019 jelang berakhir. "Mengapa kewajiban tak berbanding lurus dengan hak kita, ya?," tanyanya serius sembari menunaikan laporan perkembangan organisasi kelembagaan Badan Keswadyaan Masyarakat (BKM), Jum'at siang (26/7/2019) di posko tim, Jl. Menur Pumpungan, Kota Surabaya.

Pasalnya, gaji tim Koordinator Kota (Korkot) dan tim Fasilitator Kelurahan (Faskel) Program KOTAKU Kota Surabaya untuk bulan Mei dan Juni 2019 belum juga dibayarkan. "Sudah dua bulan (Mei dan Juni 2019, red.) lho, rek." lanjut perempuan yang akrab di sapa Mama Iin itu, "Kita kunjungan lapang ( _field visit_ ) dengan bekal pas-pasan. Belum lagi untuk kebutuhan biaya rumah tangga dan sangu sekolah anak," lanjutnya dengan nada lirih.

Dengan wajah penuh harap, Imam Wahyudi (47), seorang kawan personil tim fasilitator Program Kotaku Kota Surabaya, sontak merespon. "Iya Mbak, lokasi dampingan 154 kelurahan ini bukan jumlah yang kecil, lho. Sedang tenaga pendampingnya hanya sebatas hitungan jari, permintaan data dari pusat pun tak berkurang," respon Imam.

Menurut keterangannya, dia berangkat kunjungan lapang tiada henti melangitkan doa dalam setiap langkah perjalanannya, dengan harapan pesan dari langit akan segera tiba. "Sebenarnya, setiap saya ke lapang selalu berdoa, mbak." terangnya. "Dirumah, bapak mertua saya sakit gagal ginjal, setiap dua kali dalam seminggu harus cuci darah ke rumah sakit. Waktunya membayar biaya kuliah anak juga tak terhindarkan, mbak." rintih Imam.

Jum'at siang itu, cuacanya begitu cerah, namun tak seperti hati imam. Suara rintih itu masih saja terungkap, seolah setiap rintihan yang terucap dari bibirnya adalah suara hati yang lama terpendam.

"Saya harus menunaikan tiga kewajiban sekaligus, mbak." katanya. "Salah satunya menunaikan tugas sebagai suami ta pak? Kan, tinggal _kikuk-kikuk_ saja sama istri pak. Hehe. respon Iin seraya menghibur.

"Lebih dari itu, mbak." Imam menimpali. "Kewajiban sebagai menantu dengan kondisi mertua sedang sakit, sebagai seorang ayah yang harus melunasi biaya kuliah anak dan sebagai pendamping program yang setiap hari harus mengunjungi lokasi dampingan. Ini semua membutuhkan tenaga dan biaya tidak sedikit," curhat Imam dengan wajah menahan tangis.

Tanpa terasa, matahari menguning emas dari arah barat. Suasana mulai sunyi, tampaknya senja telah tiba. Laptop masih saja menyala di hadapan Siti, seorang fasilitator ekonomi.  Wanita lajang dengan nama lengkap Siti Harlina (34) itu sesekali melihat jam di _gadget_ nya. "Sudah jam 5 sore, ya?," kata Siti.

Seolah tak kuasa mendengar derita yang menjerat teman-teman timnya. Sedang percakapan antara Imam dan Iin tak jua usai. "Perutku sudah mulai lapar, ayo makan bakso Boedjangan, nanti saya yang bayar," ajak Siti seraya ingin melepas rantai derita yang menjerat leher kawan-kawannya itu.

Ilyasin Penulis adalah  Fasilitator Sosial Surabaya

2 komentar:

  1. Turut merasakan penderitaan kawan2 yg blm g

    BalasHapus
  2. Sabher sabher sabher.... semua akan ada hikmah nya...

    BalasHapus

#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA