KOTAKU Selebrasi 17 Agustus, Merdeka Dari Sampah Plastik - KOTAKU KOORKOT SURABAYA

KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik, tapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik[ Ilham JP]


Website ini merupakan media informasi seputar Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kluster Surabaya: Kota Surabaya Kab.Bangkalan Kab.Pamekasan Kab.Sumenep
Selamat Datang di Website KOTAKU Koorkot Surabaya

Total tayangan

Rabu, 07 Agustus 2019

Selebrasi 17 Agustus, Merdeka Dari Sampah Plastik


Bila menyoal sampah di negeri seribu pulau ini memang tak kunjung usai. Isu sampah masih saja "sexy" untuk diperbincangkan, terlebih soal sampah plastik. Setidaknya, berdasar hasil riset Dr. Jenna Jambeck di Jurnal Science, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari 192 negara sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan. Akademisi dan peneliti asal Universitas Gorgia, Amerika Serikat itu menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam 5 besar penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dengan urutan kedua setelah Tiongkok, lalu disusul Filipina, Vietnam dan Srilanka. Dari data yang dihimpun, melalui laman situs (www.sciencemag.org) pada 12 Februari 2015 silam, ia memperkirakan jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan dari seluruh dunia sebanyak 4,8 - 12,7 juta ton dan Indonesia berhasil menyumbang sampah plastik 3,2 juta ton. Ikhwal ini bukan prestasi yang membanggakan tentunya, data tersebut membuktikan bahwa belum rampungnya manajemen pengelolaan sampah yang baik, membuat lautan terdampak sampah plastik.
Menurut Dr. Jenna, plastik tidak terdegradasi secara alamiah. Namun, membutuhkan waktu yang cukup lama, plastik akan berubah menjadi ukuran yang lebih kecil lagi dan akan merusak lingkungan, ia menyebutnya, mikroplastik. Pada bulan April 2019 lalu, penulis dan kawan-kawan pegiat lingkungan sempat berdiskusi tema serupa dengan Ketua Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some. Senada dengan hasil riset Dr. Jenna, Wawan, sapaan akrabnya, melontarkan sebuah tesis bahwa sampah berbahan plastik dapat terurai hingga satu abad lamanya. Dan, sampah berbahan popok habis pakai akan terurai sekitar kurang lebih lima abad. Sampah plastik yang berakhir di lautan bisa saja disebabkan tanpa adanya pemilahan sampah dan infrastruktur yang tidak memadai. Di Kota Surabaya, menurut Wawan, dalam setiap harinya sampah yang masuk ke TPA mencapai 300 truk setara dengan 1.200 ton serta sungai masih menjadi pilihan masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah terpanjang.
Kondisi memperihatinkan ini harus menjadi tanggung jawab bersama. Sebab, sampah plastik dapat merusak ekosistem laut, fungsi ekologis alam dan mengancam keberlangsungan hidup manusia umumnya. Setiap biota yang dikonsumsi manusia tidak menutup kemungkinan terdapat cacahan plastik (mikroplastik) di dalamnya. Fakta menunjukkan bahwa ikan tidak bisa membedakan antara mikroplastik dan plankton. Kawasan konservasi seperti hutan mangrove, misalnya, tidak dapat memberikan fungsi ekologisnya secara sempurna. Sampah plastik yang terdampar di hutan mangrove terbukti membunuh ribuan anak mangrove atau yang tumbuh secara alami. Lilitan plastik yang terurai ratusan tahun akan terperangkap di akar tunjang vegetasi mangrove sehingga menutupi akar yang memiliki fungsi mengambil oksigen itu.
Meski menuai pro - kontra, pemerintah melalui terbitnya Surat Edaran Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun No : S.1230/PSLB3-PS/2016 tertanggal 17 Februari 2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar (SE-KPB), yang diberlakukan sejak tanggal 21 Februari 2016 lalu, setidaknya mengurangi jumlah angka penggunaan kantong plastik di Kota Surabaya yakni sekitar 60 persen. Hal ini memang membutuhkan ketegasan dari pemangku kebijakan, agar peraturan yang telah di terbitkan tidak kembang - kempis dan jelas peruntukannya. Terlepas dari hal itu, menurut hemat penulis, persoalan sampah ini menitik beratkan pada sejauh mana keterlibatan banyak pihak turut andil dalam menyikapi persampahan, kampanye cinta lingkungan, edukasi pengelolaan sampah dan pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Di sisi lain, kita harus mendudukkan persoalan ini secara arif. Melibatkan diri sendiri merupakan cara bijak dalam menyikapi kasus demikian. Banyak kisah sukses tentang daur ulang sampah yang bisa dijadikan ibrah baik yang dilakukan secara personal maupun komunal. Perubahan besar tentu harus melalui hal-hal kecil terlebih dahulu dan bisa dimulai dari diri kita masing-masing. 
Merawat Lingkungan Dalam Perspektif Islam
Diskursus pelestarian lingkungan hidup dan tanggung jawab manusia terhadap alam telah dibicarakan sejak dulu. Relasi antara manusia dengan alam (Hablun min al-'alam) banyak disinggung dalam al-Qur'an. Relasi tersebut tidak melulu hanya hubungan eksploitatif tetapi juga apresiatif. Alam (lingkungan) tidak hanya "dimanfaatkan" tetapi juga harus dihargai. Krisis lingkungan hidup global yang terjadi dewasa ini sebetulnya bersumber dari kesalahan fundamental filosofis dalam pemahaman atau cara pandang manusia mengenai dirinya, alam, dan tempat manusia dalam keseluruhan ekosistem. Alhasil, kesalahan pandangan ini melahirkan perilaku yang keliru dalam memandang alam dan keliru pula dalam menempatkan dirinya di dalam ekosistem alam. Oleh sebab itu, pembenahan krisis lingkungan ini harus di mulai dari perombakan pandangan hidup tersebut.
Kesalahan cara pandang itu berawal dari paham antroposentrisme yang memandang manusia sebagai sentral alam semesta dan hanya manusia yang memiliki nilai. Paham ini menegaskan bahwa manusia sebagai subjek dari segala sesuatu, sementara alam dan seluruh isinya hanya sebatas alat (instrument) bagi pemuasan kepentingan atau pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Menurut paham ini, manusia dianggap berada di luar dan terpisah dari alam. Bahkan, manusia dianggap sebagai penguasa dan boleh melakukan apapun terhadap alam. Cara pandang seperti ini berimbas pada sikap dan perilaku eksploitatif tanpa peduli sama sekali terhadap alam dan isinya karena dianggap tidak memiliki nilai pada dirinya sendiri.
Bila di hadapkan pada konteks konservasi alam, sedikitnya paham ini memiliki tiga kelemahan. Pertama, mengabaikan lingkungan yang dinilai tidak memberi keuntungan pada manusia, kedua, eksploitasi yang dilakukan berubah-ubah sesuai selera dan kepentingan manusia, dan ketiga, berorientasi pada nilai-nilai ekonomis jangka pendek.
Islam sebagai agama denga misi menebarkan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil 'alamin) memiliki pandangan khas tersendiri terhadap lingkungan hidup dan semesta alam pada umumnya yang dapat dikonsepsikan sebagai ekoshari'ah. Mudhafir Abdullah, dalam karyanya, Al-qur'an dan Konservasi Lingkungan, mengulas dengan gamblang. Menurutnya, ekoshari'ah dapat didefinisikan sebagai nilai-nilai ajaran Islam yang berpihak terhadap lingkungan hidup. Istilah ini menegaskan bahwa ajaran agama (Islam) telah meletakkan pondasi nilai-nilai dasar dalam kerangka membangun kehidupan yang ramah lingkungan. Nilai-nilai dasar tersebut dapat digali dari sumber utama ajaran Islam, al-Qur'an dan Hadits.
Dengan ekoshari'ah, paling tidak akan lahir dua paradigma. Pertama, bahwa konsep-konsep konservasi lingkungan adalah bagian dari ajaran Islam, karena konsep itu hasil deduksi dan induksi dari sumber ajaran Islam. Kedua, kerja konservasi yang dilakukan oleh manusia bagian dari keberagamaan, atau sebagai bagian dari implementasi iman seseorang. Dengan demikian, ekoshari'ah diharapkan menjadi pandangan dunia yang mewarnai paradigma masyarakat Muslim.
Dengan konsep ini pula, akan menjadi pintu masuk bagi usaha-usaha konservasi lingkungan berbasis nilai ajaran Islam yang bukan hanya untuk memperbaiki kualitas lingkungan di negara-negara Muslim, tetapi dapat juga menopang gerakan global dalam masalah pembangunan berkesinambungan. Dalam artian, penggalian kembali pesan-pesan konservasi lingkungan dari perspektif syariah dapat menjadi tonggak sejarah bagi gerakan environmentalisme global.
Ilyasin Yusuf adalah Fasilitator Sosial  Kota Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA