KOTAKU 04/26/19 - KOTAKU KOORKOT SURABAYA

KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik, tapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik[ Ilham JP]


Website ini merupakan media informasi seputar Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kluster Surabaya: Kota Surabaya Kab.Bangkalan Kab.Pamekasan Kab.Sumenep
Selamat Datang di Website KOTAKU Koorkot Surabaya

Total tayangan

Jumat, 26 April 2019

Berkat Kolaborasi, Dukuh Jurang Indah Sabet Penghargaan

Kota Surabaya yang megah masih menyisakan sejumlah kawasan kumuh. Sederetan rumah warga tak layak huni, dengan tata letak yang tidak teratur menghias satu wilayah di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur tersebut. Seperti di sebuah kampung di Kelurahan Putat Gede, Kecamatan Suko Manunggal: Dukuh Jurang Indah. Permukiman kumuh tersebut terletak di sisi jalan Tol Satelit, penghubung Surabaya, Waru, dan Malang.
Kendati masuk wilayah perkotaan, Dukuh Jurang Indah tergolong “menderita” bila menyoal akses jalan raya dan sarana pendidikan. Untuk keluar dari wilayahnya, warga mesti melintasi perumahan di kawasan Putat Indah. Saat mau bersekolah, anak-anak di Dukuh Jurang Indah pun harus menempuh rute panjang.
Menurut Susanto, seorang ketua rukun tetangga di Kampung Dukuh Jurang Indah, pembangunan jalan tol 37 tahun lampau membuat permukiman warga setempat terputus dan terisolir. Sebelumnya, dia menambahkan, Dukuh Jurang Indah tersambung dengan daerah lain seperti langsung ke Kelurahan Putat Gede dan Kelurahan Pradah Kali Kendal.
Tak semua memang berpangku tangan melihat kondisi ini. Selain pemerintah tentunya, fakta kumuh di Kampung Dukuh Jurang Indah mengundang perguruan tinggi untuk ikut menyingsingkan lengan baju. Bentuk simpati itu digenapi lewat sederet pembinaan dan pembenahan. Universitas Dr. Soetomo (Unitomo), adalah perwakilan lembaga pendidikan terkini, yang menerjunkan 300 civitas akademika untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. “Kami akan berupaya maksimal memberdayakan masyarakat dukuh dari sisi ekonomi, pendidikan, dan sisi penguatan hukum,” kata Rektor Unitomo Bahrul Amiq.
Langkah strategis memang langsung dilakukan para mahasiswa. Di antaranya bakti sosial seharian dengan sederet aktivitas. Mulai dari diskusi membangun kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah, penanaman 200 pohon, pembuatan lubang serapan biopori, hingga perpustakaan mini di balai RT. Sementara dari sisi hukum, warga setempat diberi pemahaman mengenai keberadaan lahan mereka sebagai aset yang rawan dimiliki pihak lain, dengan beragam tujuan. “Kampung ini bisa hilang. Tanah warga akan ditawar, padahal harganya jelas sangat mahal,” tutur Bahrul, serius.
Aksi civitas Unitomo memancing animo penduduk. Tengoklah perhatian anak-anak yang tampak aktif di “Sudut Baca”, areal mereka menambah ilmu pengetahuan lewat hobi membaca. Kesadaran warga terhadap pola hidup bersih dan sehat juga mulai tumbuh. Perkampungan kini tampak lebih “hijau” dan bersih.
Warga setempat akhirnya memang menemukan caranya sendiri untuk menghijaukan kampungnya. Susanto berkisah soal ember plastik bekas cat yang berubah fungsi sebagai pot tanaman buah dan hias. Sosok pegiat lingkungan itu memancing hasrat senada dari warga, untuk nantinya menghiasi lingkungan dari hulu hingga hilir dusun. “Pengadaan tanamannya dibantu Tunas Hijau (komunitas berbasis lingkungan di Kota Pahlawan), sekolah sekitar, dan beberapa universitas di Surabaya,” kata pengemudi di satu toko material setempat itu.
Kiat Santo berbuah sukses. Kegiatan mengubah wajah Dusun Jurang Indah mengular. Sebut saja Komunitas Penerima Beasiswa Bank Indonesia (GenBI) Korkom Surabaya menggaet komunitas Tunas Hijau dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga buat aksi Bersih Indonesia 2018 bertajuk Kelana Resik Kampoeng, yang menawarkan beragam program ramah lingkungan dan hidup sehat. Di antaranya edukasi penggunaan limbah menjadi sabun, renovasi rumah baca, renovasi taman balai, pemeriksaan kesehatan gratis, penanaman pohon dan bersih sampah desa. Tak pelak, dalam waktu singkat Dukuh Jurang Indah sukses menyabet penghargaan Kelana Resik Kampoeng.
Sebelum Bersih Indonesia 2018 digelar, sebenarnya Dukuh Jurang Indah sudah didaulat Kelurahan Putat Gede untuk mengikuti Lomba Merdeka dari Sampah yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Serta merta warga menggelar urun rembuk dan langsung beraksi. Hasilnya, penampilan perkampungan berubah menjadi berwarna-warna, jumlah tanaman diperbanyak, kerja bakti pun rutin digelar.
Kolaborasi pun menjadi solusi mengubah predikat kumuh wilayah. Tim Fasilitator Kelurahan Putat Gede Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ikut menganggarkan Bantuan Dana Investasi Tahun Anggaran 2018. Dana tersebut dimanfaatkan untuk dua unit motor sampah yang mengangkut sampah rumah tangga ke tempat penampungan sementara. Alasannya jelas, truk sampah masih belum bisa mengakses wilayah lantaran ruas jalanannya sulit dilalui.
Kementerian Ketenagakerjaan juga diajak berpartisipasi. Demi peningkatan aktivitas perekonomian warga, Badan Keswadayaan Masyarakat Putat Gede Mandiri mendapat alokasi bantuan peralatan sablon, untuk mendongkrak industri kreatif setempat.
Sedianya, Dusun Jurang Indah pun bakal bekerja sama dengan PT Pertamina (Persero) untuk realisasi pembangunan ruang terbuka hijau pada 2019 ini. Dan khusus dari Dinas Cipta Karya Kemen PUPR, kampung terkucil tersebut akan mendapat perbaikan jalan lingkungan plus saluran drainasenya. Keren... [Jatim]

Tentang Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku)


Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) adalah satu dari sejumlah upaya strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mempercepat penanganan permukiman kumuh di Indonesia dan mendukung “Gerakan 100-0-100”, yaitu 100 persen akses universal air minum, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak. Arah kebijakan pembangunan Dirjen Cipta Karya adalah membangun sistem, memfasilitasi pemerintah daerah, dan memfasilitasi komunitas (berbasis komunitas). Program Kotaku akan menangani kumuh dengan membangun platform kolaborasi melalui peningkatan peran pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat.
Program Kotaku dilaksanakan di 34 provinsi, yang tersebar di 269 kabupaten/kota, pada 11.067 desa/kelurahan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kumuh yang ditetapkan oleh kepala daerah masing-masing kabupaten/kota, permukiman kumuh yang berada di lokasi sasaran Program Kotaku adalah seluas 23.656 Hektare.
Sebagai implementasi percepatan penanganan kumuh, Program Kotaku akan melakukan peningkatan kualitas, pengelolaan serta pencegahan timbulnya permukiman kumuh baru, dengan kegiatan-kegiatan pada entitas desa/kelurahan, serta kawasan dan kabupaten/kota. Kegiatan penanganan kumuh ini meliputi pembangunan infrastruktur serta pendampingan sosial dan ekonomi untuk keberlanjutan penghidupan masyarakat yang lebih baik di lokasi permukiman kumuh.
Tahapan pelaksanaan Program Kotaku adalah pendataan. Lembaga masyarakat di desa/kelurahan yang bernama Badan/Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM) sudah melakukan pendataan kondisi awal (baseline) 7 Indikator Kumuh di desa/kelurahan masing-masing. Data tersebut diintergrasikan antara dokumen perencanaan masyarakat dan dokumen perencanaan kabupaten/kota untuk menentukan kegiatan prioritas mengurangi permukiman kumuh dan mencegah timbulnya permukiman kumuh baru. Yang nantinya akan dilaksanakan, baik oleh masyarakat atau oleh pihak lain, yang memiliki keahlian dalam pembangunan infrastruktur pada entitas kawasan dan kota.
Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala guna memastikan ketepatan kualitas dan sasaran kegiatan, sehingga dapat membantu percepatan penanganan permukiman kumuh. Kegiatan-kegiatan pengembangan kapasitas untuk pemerintah daerah dan masyarakat akan dilakukan bersama tahapan kegiatan. Termasuk mendorong perubahan perilaku dalam pemanfaatan dan pemeliharaan sarana prasarana dasar permukiman.
Program Kotaku ini telah disosialisasikan kepada pemerintah daerah pada 27 April 2016
bertempat di Jakarta. BKM akan menjadi faktor yang dapat mempercepat tercapainya permukiman yang layak huni dan berkelanjutan karena sudah berpengalaman dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan penanggulangan kemiskinan. BKM ini “direvitalisasi” dari sebelumnya yang terfokus pada penanggulangan kemiskinan, kini berorientasi ke penanganan kumuh.
Sumber pembiayaan Program Kotaku berasal dari pinjaman luar negeri lembaga donor, yaitu Bank Dunia (World Bank), Islamic Development Bank, dan Asian Infrastructure Investment Bank. Selain itu kontribusi pemerintah daerah dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun swadaya masyarakat, yang akan menjadi satu kesatuan pembiayaan demi mencapai target peningkatan kualitas penanganan kumuh yang diharapkan.
Tujuan umum program ini adalah meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di permukiman kumuh perkotaan untuk mendukung perwujudan permukiman perkotaan yang layak huni, produktif, dan berkelanjutan. Dalam tujuan umum tersebut terkandung dua maksud. Pertama, memperbaiki akses masyarakat terhadap infrastruktur dan fasilitas pelayanan di permukiman kumuh perkotaan. Kedua adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perkotaan melalui pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh, berbasis masyarakat, dan partisipasi pemerintah daerah.
Penjabaran atas tujuan Program Kotaku adalah memperbaiki akses masyarakat terhadap infrastruktur permukiman sesuai dengan 7 + 1 indikator kumuh, penguatan kapasitas pemerintah daerah untuk mengembangkan kolaborasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder), dan memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood).
#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA