KOTAKU 07/31/19 - KOTAKU KOORKOT SURABAYA

KOTAKU KOORKOT SURABAYA

Pembaca yang baik belum tentu menjadi penulis yang baik, tapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik[ Ilham JP]


Website ini merupakan media informasi seputar Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Kluster Surabaya: Kota Surabaya Kab.Bangkalan Kab.Pamekasan Kab.Sumenep
Selamat Datang di Website KOTAKU Koorkot Surabaya

Total tayangan

Rabu, 31 Juli 2019

Belajar Strategi Penanganan Kebakaran Bersama DAMKAR Kota Surabaya


Hari ini  pukul 10.00-12.30 (31/7) kami dari Tim Koorkot Kota Surabaya dan TMC berkunjung ke Dinas Pemadam Kebakaran (DAMKAR) yang ke dua kalinya. Setelah yang pertama gagal, hari ini Alhamdulillah bisa berdiskusi dan belajar mengenai strategi penaganan kebakaran terutama di daerah padat penduduk.   Hawalia  sebagai Asisten Urban Planner menyampaikan perencanaan mengenai peta dan titik Hidran yang akan dipasang. Hal itu mengacu pada hasil perencanaan sebelumnya yang sudah dibuat oleh Wiswa Karman tentang Detail Engenering Design (DED) Mrutu Riverside setelah menyampaikan paparan sebagai pengantar diskusi dalam pertemuan tersebut
Gatot kepala Seksi (Kasi) Sosialisasi dari Damkar menyampaikan bahwa  hal yang utama dan pertama yang menjadi masalah di daerah Wonokusumo adalah mental dan perilaku masyarakat. Kesadaran masyarakat yang rendah dan pentingnya perubahan perilaku menjadi titik pangkal persoalan, dan bagi saya itu lebih penting ketimbang memasang hidran itu sendiri ujar Gatot

Dengan semangat dan ekspresi yangs serius Gatot melanjutkan terkait pengalamannya di sekitar Wonokusumo mengenai sosialisasi dan simulasi mengenai juru padam yang sebenarnya. Juru padam yang sebenarnya adalah warga itu sendiri, karena kebakaran jika dicegah secepat mungkin antara 1-4 menit maka kebakaran tidak akan merambah kemana-mana. Akan tetapi yang terjadi, warga seringkali mengganggap enteng dan seolah tidak butuh mengenai cara cepat memadamkan kebakaran. Hal ini terbukti saat melakukan sosialisasi dan simulasi di daerah Wonokusumo warga sering protes, ada apa sih, bikin macet jalan saja. Bahkan pernah kejadian saat memadamkan kebakaran, selangnya pernah diclurit dan warga berebut untuk menyemprotkan ke rumahnya sendiri-sendiri, pusing deh jika mengatasi daerah sana, keluh Gatot
 Sementara Imam yang menjadi kepala Seksi Sarana dan Prasarana juga menyampaikan bahwa di Kota Surabaya memiliki 75 unit mobil pemadam kebakaran 400 tandon air dengan kapasitas 10 meter kubik, 5 rayon dan 21 pos rayon. Salah satu mobil pemadam kebakaran seharga 58 Miliar itu bisa mencapai ketinggian 50 lantai, gedung tertinggi di kota Surabaya. Oleh karena itu, jika di daerah Wonokusomu sebagai daerah yang padat dan kumuh, alternatifnya adalah dengan menggunakan Hidran kering, di mana setiap jarak 100 meter harus dipasang Hidran Pilar. Persoalannya adalah sanggup tidak masyarakat merawat dan menjaga hidran kering itu, jangan-jangan nanti dibongkar dan dijual kiloan kata Imam sambil ketawa[Prastyo ]


Budaya Hidup Bersih dan Sehat menjadi Tema KBIK

Sedikitnya, ada tiga problem mendasar yang menjadi pokok pembahasan pada kegiatan ini ialah, pertama, partisipasi masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), kedua, evaluasi kinerja (evkin) triwulanan, dan terakhir, soal strategi pendampingan di lapang.

Wadah untuk curah pendapat dan silaturrahim tersebut dipandu oleh Siti Harlina pada, Selasa (30/7) kemarin, selama seharian penuh, bertempat di lokasi destinasi wisata Sumber Maron, Malang selatan. "Agar tidak melebar, saya kerucutkan pembahasannya menjadi tiga point," kata Lina. "Yakni, partisipasi masyarakat untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), evaluasi kinerja triwulanan dan strategi pendampingan ke depan," sambungnya.
Lina mengakui, merubah perilaku seseorang tak semudah membalik telapak tangan. Intensitas penyadaran kepada masyarakatpun menjadi parameter keberhasilan merubah perilaku. "Hendaknya dari masing-masing kita selalu menyempatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, misalnya," Lina mencontohkan.  "Perubahan besar pastinya dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu, paling tidak untuk menggugah kesadaran masyarakat bisa di mulai dari kebersihan rumah tangga. Lambat laun perilaku demikian akan menjamur di masyarakat secara keseluruhan," lanjut mantan senior fasilitator Program Kotaku itu.
Kendati demikian, ia menyemangati kawan-kawan timnya agar tidak mudah patah arang bahwa proses ini memang membutuhkan waktu lama. "Karena ini bagian dari pekerjaan kita, jadikanlah proses ini sebagai ibadah sosial sekalipun dalam rentang waktu yang sangat lama," Lina menyemangati.
Saat memasuki pembahasan point kedua tentang evaluasi kinerja, ia beberkan progres kinerja tim. Bahwa ada beberapa hal yang belum tuntas, salah satunya adalah pelaporan audit pendanaan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Menurutnya, berkas yang masuk ke auditor independen sebanyak 42 berkas saja dari total 154 BKM yang belum melakukan audit.  "Pelaporan audit ini menyangkut akuntabilitas dan transparansi kelembagaan BKM. Jadi, kedepannya kita fokus mendampingi BKM yang belum melakukan audit. Sementara yang berhasil di auditkan sebanyak 42 BKM dan ada beberapa yang tinggal menunggu hasilnya saja." beber Lina.
Menanggapi hal itu, Nurma Sulistyawati, fasilitator sosial berkisah soal kondisi di lapang. "Ada beberapa BKM yang memang sama sekali tidak memiliki sumber pendanaan untuk melakukan audit dan ada pula berkas-berkas yang masih nyangkut di fasilitator sebelumnya, tetapi kedepan saya akan komunikasikan dengan pihak terkait," dalihnya.

Sebelumnya, pada bulan februari yang lalu telah dilaksanakan assesment Senior Fasilitator (SF) dan Fasilitator Kelurahan (Faskel) Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) secara nasional. Hampir 70 persen tenaga pendamping gugur dalam test assesment tersebut.

"Ibarat perang, amunisi persenjataan dan logistik prajurit mulai berkurang," tandas Lina di sela-sela pembahasan point terakhir KBIK yakni strategi pendampingan fasilitator. "Perlu tenaga ekstra dan mobilitas tinggi untuk mengatur ritme pendampingan, makanya, strategi zonasi dan mengefektifkan kembali FKA BKM adalah solusi tepat dalam melakukan pendampingan," tandasnya.  Harapannya, pemangku kebijakan dari pusat hingga daerah mengkaji ulang atas jumlah personil pendamping di kota-kota besar. "Lima orang personil fasilitator ini tidak sebanding dengan jumlah lokasi dampingan yang ada di Surabaya," tambahnya.

Ilyasin Yusuf Penulis adalah Fasilitator Sosial Kota Surabaya



#header:hover { -webkit-transition-duration: 3s; -moz-transform: rotate(360deg); -webkit-transform: rotate(360deg); }
JANGAN LUPA BAHAGIA